Selasa, 20 Desember 2016

Aktivis Dakwah Di Tepi Jurang

"Bagaimana lagi Dia tidak membuat izzahmu layaknya pakaian yang compang-camping, sedangkan “rutinitas vertikal” mu terseok-seok, merangkak di batas tanah kering.”


Apa yang orang lain pikirkan tentang seorang aktifis dakwah pasti tidak jauh dengan yang namanya shalih, teladan dan kebaikan. Tapi ada juga sisi yang menarik untuk dijadikan sebagai bahan renungan. Renungan tentang fenomena aktifis dakwah kini. Tidak semuannya memang.
Sepertinya menjadi suatu aib yang sangat besar, bahkan bisa jadi menyesakkan dada ketika seorang aktivis telat datang saat rapat/syuro. Aib karena malu kepada yg lain. Di dalam hati berkata “Apa kata teman-teman saya kalau saya telat datang? Tentu saya sebagai seorang “senior” malulah.” Maka, ketika akan mulai rapat seorang akan selalu melihat waktu dan bergegas berangkat.
Tapi menarik karena perasaan sang aktivis tidak malu bahkan merasa bukan sebagai aib, ketika ia telat untuk shalat jamaah di mesjid, merasa biasa saja ketika panggilan-Nya datang, tidak bersemangat dan mau bergegas seperti berangkat rapat/syuro. Lantas manakah yang patut kita malu? Kepada staf kita atau kepada Rabb kita? Bukankah aktifitas ini semuanya harusnya untuk Allah?  Lantas kenapa yang didepan manusia seolah-olah lebih berharga? Ditempat yang lain, beberapa aktifis begitu aktif berdiskusi, membahas permasalahan umat, kondisikampus. Kata mereka kini semakin jauh dari warna nilai-nilai islam. Solusi-solusi mereka sampaikan, gagasan-gagasan yang selanjutnya mereka susun sebagai langkah praktis pemecahan. Hebat! Sungguh hebat analisis mereka.
Tapi kenapa, entah mungkin lelah dengan aktifitas dakwahnya atau pikiran yang terforsir begitu besar memikirkan umat. Menyiapkan agenda sampai larut. Shalat subuh kesiangan, lagi-lagi biasa saja. Berulang dan terus berulang di kemudian hari.  Padahal bukankah ini juga bagian dari masalah umat saat ini.
Baru beberapa waktu lalu bergelut dengan ide dan gagasan, maka benar tinggal ide dan gagasan saja. Sebatas wacana. Ada pula para aktifis dengan gagahnya berjalan memakai jaket kebanggaannya. Menunjukkan identitas dirinya sebagai bagian dari lembaga dakwah. Seharusnya, orang akan melihatnya sebagai sosok yang damai, membuat orang lain ingin semakin dekat padanya. Ketika didekatnnya maka tidak lain ketenangan yang dirasakan, maka tak pelak semakin banyak yang akan mengikuti jalan dakwahnya. Namun beberapa orang mulai gerah. Gerah dengan mereka yang berjaket itu. Karena wajahnya yang tidak segagah jaketnya. Setiap mengenakan jaket itu, dan berjalan, ada sesuatu yang berbeda.
Karena akhlaqnya maka orang lain semakin antipati terhadapnya, tak lama selanjutnya terhadap lembaganya. Inilah jurang antara lembaga dan para aktivisnya. Suatu hari berkumpul para pemuda, aktifis dakwah. Mereka bercengkrama. Kepada para junior mereka memotivasi tentang semangat pemuda dengan gaya bicara tentu berapi-api. Sejenak membuat kagum, sangat menginspirasi.
Besok subuh. Dimana para aktifis itu? Kenapa mesjid yang begitu dekat dengan tempat tinggalnya hanya diisi oleh jamaah yang dominan beruban, berpakaian kusut dengan kulit yang keriput? Ternyata dia masih sibuk menikmati pembaringannya, dikalahkan oleh dinginnya subuh. Lantas kemana semangat yang baru kemarin dikobarkan? Lantas siapa sebenarnya yang pantas jadi pemuda itu? Sepertinya lebih pantas bapak-bapak yg beruban itu. Ada apa ini? Bukankah ini masalah besar? Ini semua bukan sesuatu yang sederhana. Ini masalah besar bagi umat ini. Bukankah seorang da’i itu dicintai karena akhlaqnya yang indah, dan bukan sebaliknya? Apa guna semua ini kalau hanya karena menjaga izzah di hadapan manusia? Dalih profesional kepada manusia tapi tidak kepada Allah.
Bukankah sejarah kejayaan umat Islam terdahulu tercatat karena para pejuangnya yang selalu menjaga kedekatan mereka kepada Rabbnya? Menjaga shalat-shalat malamnya, apalagi menjaga shalat subuh jamaah mereka? Tidakkah kita takut, aktifitas dakwah yang dikerjakan ini tidak mendapat ridho dan berkah dari-Nya? Maka jangan heran, mungkin hal yang sama pulalah kenapa kemudian para pengusung dakwah begitu diremehkan dan tidak dianggap oleh musuh-musuhnya. karena barisan pengusungnya memiliki ciri munafiq dalam dirinya. Lalu mau di kemanakan dakwah ini, jika pengusungnya malas- malasan untuk berbenah ?
Bisa jadi kerusakan kerusakan akan jauh lebih banyak dari apa yang akan di perbaiki.
Wahai aktivis,.

Sadarlah!!! ada tugas besar di pundakmu.  Mari berbenah..!!! Sebelum kata "TERLAMBAT" itu datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar