"Bagaimana lagi Dia tidak membuat izzahmu layaknya
pakaian yang compang-camping, sedangkan “rutinitas vertikal” mu terseok-seok,
merangkak di batas tanah kering.”
Apa yang orang lain pikirkan tentang seorang
aktifis dakwah pasti tidak jauh dengan yang namanya shalih, teladan dan
kebaikan. Tapi ada juga sisi yang menarik untuk dijadikan sebagai bahan
renungan. Renungan tentang fenomena aktifis dakwah kini. Tidak semuannya
memang.
Sepertinya menjadi suatu aib yang sangat
besar, bahkan bisa jadi menyesakkan dada ketika seorang aktivis telat datang
saat rapat/syuro. Aib karena malu kepada yg lain. Di dalam hati berkata “Apa
kata teman-teman saya kalau saya telat datang? Tentu saya sebagai seorang
“senior” malulah.” Maka, ketika akan mulai rapat seorang akan selalu melihat
waktu dan bergegas berangkat.
Tapi menarik karena perasaan sang aktivis
tidak malu bahkan merasa bukan sebagai aib, ketika ia telat untuk shalat jamaah
di mesjid, merasa biasa saja ketika panggilan-Nya datang, tidak bersemangat dan
mau bergegas seperti berangkat rapat/syuro. Lantas manakah yang patut kita
malu? Kepada staf kita atau kepada Rabb kita? Bukankah aktifitas ini semuanya
harusnya untuk Allah? Lantas kenapa yang
didepan manusia seolah-olah lebih berharga? Ditempat yang lain, beberapa
aktifis begitu aktif berdiskusi, membahas permasalahan umat, kondisikampus.
Kata mereka kini semakin jauh dari warna nilai-nilai islam. Solusi-solusi
mereka sampaikan, gagasan-gagasan yang selanjutnya mereka susun sebagai langkah
praktis pemecahan. Hebat! Sungguh hebat analisis mereka.
Tapi kenapa, entah mungkin lelah dengan
aktifitas dakwahnya atau pikiran yang terforsir begitu besar memikirkan umat. Menyiapkan
agenda sampai larut. Shalat subuh kesiangan, lagi-lagi biasa saja. Berulang dan
terus berulang di kemudian hari. Padahal
bukankah ini juga bagian dari masalah umat saat ini.
Baru beberapa waktu lalu bergelut dengan ide
dan gagasan, maka benar tinggal ide dan gagasan saja. Sebatas wacana. Ada pula
para aktifis dengan gagahnya berjalan memakai jaket kebanggaannya. Menunjukkan
identitas dirinya sebagai bagian dari lembaga dakwah. Seharusnya, orang akan
melihatnya sebagai sosok yang damai, membuat orang lain ingin semakin dekat
padanya. Ketika didekatnnya maka tidak lain ketenangan yang dirasakan, maka tak
pelak semakin banyak yang akan mengikuti jalan dakwahnya. Namun beberapa orang
mulai gerah. Gerah dengan mereka yang berjaket itu. Karena wajahnya yang tidak
segagah jaketnya. Setiap mengenakan jaket itu, dan berjalan, ada sesuatu yang
berbeda.
Karena akhlaqnya maka orang lain semakin
antipati terhadapnya, tak lama selanjutnya terhadap lembaganya. Inilah jurang
antara lembaga dan para aktivisnya. Suatu
hari berkumpul para pemuda, aktifis dakwah. Mereka bercengkrama. Kepada para
junior mereka memotivasi tentang semangat pemuda dengan gaya bicara tentu
berapi-api. Sejenak membuat kagum, sangat menginspirasi.
Besok subuh. Dimana para aktifis itu? Kenapa
mesjid yang begitu dekat dengan tempat tinggalnya hanya diisi oleh jamaah yang
dominan beruban, berpakaian kusut dengan kulit yang keriput? Ternyata dia masih
sibuk menikmati pembaringannya, dikalahkan oleh dinginnya subuh. Lantas kemana
semangat yang baru kemarin dikobarkan? Lantas siapa sebenarnya yang pantas jadi
pemuda itu? Sepertinya lebih pantas bapak-bapak yg beruban itu. Ada apa ini?
Bukankah ini masalah besar? Ini semua bukan sesuatu yang sederhana. Ini masalah
besar bagi umat ini. Bukankah seorang da’i itu dicintai karena akhlaqnya yang
indah, dan bukan sebaliknya? Apa guna semua ini kalau hanya karena menjaga
izzah di hadapan manusia? Dalih profesional kepada manusia tapi tidak kepada
Allah.
Bukankah sejarah kejayaan umat Islam
terdahulu tercatat karena para pejuangnya yang selalu menjaga kedekatan mereka
kepada Rabbnya? Menjaga shalat-shalat malamnya, apalagi menjaga shalat subuh
jamaah mereka? Tidakkah kita takut, aktifitas dakwah yang dikerjakan ini tidak
mendapat ridho dan berkah dari-Nya? Maka jangan heran, mungkin hal yang sama pulalah kenapa
kemudian para pengusung dakwah begitu diremehkan dan tidak dianggap oleh
musuh-musuhnya. karena barisan pengusungnya memiliki ciri munafiq dalam
dirinya. Lalu mau di kemanakan dakwah ini, jika pengusungnya
malas- malasan untuk berbenah ?
Bisa jadi kerusakan kerusakan akan jauh lebih banyak dari apa yang akan di
perbaiki.
Wahai aktivis,.
Sadarlah!!! ada tugas besar di pundakmu. Mari berbenah..!!! Sebelum kata
"TERLAMBAT" itu datang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar