Manusia itu lemah (An-Nisa:28). Manusia itu
mudah terpedaya (Al-Infithar:6). Manusia itu lalai (At-Takaatsur:6). Manusia
itu penakut (Albaqarah:155). Manusia itu tergesa-gesa (Al-Isra' :11)
Ketika mengikuti kajian islam tentang Organisasi membicarakan tentang pengaruh asumsi atau bisa dikatakan sudut pandang awal
kita dalam melihat manusia akan mempengaruhi managerial SDM, perilaku
organisasi, komunikasi, dan pengembangan yang terjadi dalam suatu organisasi.
Salah satu gagasan tersebut muncul dari Douglas McGregor, dosen Sloan School of
Management MIT, yang menyatakan bahwa ketika suatu organisasi mengasumsikan SDM
nya sebagai pemalas, tak teratur, kekanak-kanakan, tidak kreatif, atau
asumsi-asumsi lain yang selanjutnya disebut sebagai asumsi X, maka model
managerial dan kepemimpinan yang diterapkan dalam organisasi tersebut lebih
otoriter. Sebaliknya, ketika organisasi mengasumsikan karyawannya sebagai
asset, potensial, dewasa, kreatif, dan siap berkembang yang selanjutnya disebut
sebagai asumsi Y, maka managerial atau kepemimpinan yang diterapkan akan
lebih demokratis.
Asumsi tidak bisa dibuktikan. Asumsi bersifat
mendasar dan menjadi tumpuan manusia dalam menilai, memahami, dan mengevaluasi
baik tentang alam, orang lain, maupun agama. Berasumsi bagaikan kita membuat
suatu luasan dengan jangka yang kita putar di sembarang titik tumpu di suatu
kertas yang luas. Lusinan ribu buku barangkali telah membahas dan
memperdebatkan luasnya realitas di dunia ini. Permasalahannya adalah kita tidak
pernah benar-benar tahu seberapa luas lingkaran tersebut mampu mejangkau semua
sisi kertas. Bisa jadi kita membuat lingkaran di tepian kertas yang berarti
asumsi yang kita gunakan menjadi sempit konteksnya atau bisa jadi kita membuat
lingkaran kecil di suatu kertas besar yang sebenarnya kita bisa lebih
memperbesar lagi jangkauan lingkaran tersebut yang dalam arti asumsi yang kita
gunakan bisa lebih luas digunakan dalam berbagai konteks.
Asumsi tersebut tentu akan menentukan siapa
orang yang Anda pilih, SOP yang Anda buat, sampai evaluasi yang Anda lakukan
terhadap tim. Rapat-rapat berjam-berjam bisa tidak berguna karena keliru
mengasumsikan sesuatu. Insinyur sipil harus mampu membuat asumsi agar estimasi
karya yang dia ciptakan tetap aman. Psikolog harus mampu membuat asumsi agar
setiap orang yang datang kepadanya merasa didengarkan. Ustad membuat asumsi agar
setiap orang yang mendatanginya merasa masih layak dimaafkan Tuhan atau tidak.
Guru, arsitek, dokter, antropolog, da'i, suami, orang tua, ataupun sosiolog
menggunakan asumsi. Tapi apa yang bisa Anda berikan jawaban kepada saya bila
saya bertanya, "Tapi bukankah Alquran mengatakan sifat-sifat manusia yang
buruk? Cenderung asumsi X dong? Alquran nggak sejalan dengan perkembangan
managerial ya?. Alquran mendidik muslim untuk menjadi keras?. Mana sisi
lembutnya?"
Perusahaan atau organisasi yang bagus adalah
yang mampu menjadi tempat berkembang yang baik bagi SDM nya. Memberikan
pelatihan yang sesuai potensi SDM nya. Managerial yang baik cenderung
menggunakan asumsi Y. Anda bisa merasakan sendiri pada organisasi atau
perusahaan tempat Anda berkarya hari ini. Alquran dan sains tidak bertabrakan.
Alquran tentu juga tidak keliru karena faktanya kita menjumpai dan merasakan
sisi malas, kekanak-kanakan, atau pun ketergesa-gesaan kita sebagai manusia.
Asumsi X ada di dalam diri kita. Hal yang menjadi penting adalah penyikapan
kita. Keliru jika Anda menggunakan asumsi X dengan ditujukan untuk orang lain
atau mengeneralisir baik untuk diri Anda maupun orang lain. Kita nilai orang
lain buruk, kita nilai diri kita bersih. Tepatnya adalah jika kita menggunakan
asumsi X untuk diri kita sendiri dan asumsi Y untuk orang lain. Biarlah
kesalahan itu memang salah kita, sedangkan orang lain masih bisa berubah.
Ayat-ayat
Alquran tentang sifat-sifat manusia ditujukan
untuk diri sendiri. Menilai diri sendiri. Mengevaluasi diri sendiri. Sedangkan
untuk orang lain kita yakini orang tersebut bisa berubah kedalam kebaikan
sehingga seorang psikolog bisa membuat organisasi menjadi tempat berkarya yang
nyaman, ustad bisa menjadikan ceramahnya menjadi sarana munculnya harapan
menjadi pribadi yang baik, dan guru bisa menjadikan pengajarannya sebagai
sarana yang benar-benar mencerdaskan. Alquran benar. Sains bisa menuntun
terhadap penyikapan-penyikapan yang tepat. Kita (muslim) lah yang seringkali
belum benar menempatkannya terlebih di tambah mudahnya masyarakat dipecah
belah.
Saya sedang tidak hanya berbicara tentang
cara kita menilai orang lain. Lebih dalam dari itu adalah sikap dan perilaku
apa yang akan Anda terapkan pada diri Anda apabila Anda di asumsikan X oleh
orang A dan diasumsikan Y oleh orang lainnya?. Terus berkarya. Terus perbaiki
diri. Terus belajar. Tetap merasa bodoh. Saring kritikan yang tak perlu. Tetap
merasa lapar. Jangan menceritakan kebaikan dirimu pada
orang lain. Orang yang mencintaimu tak mrmbutuhkan itu. Orang yang membencimu
tak mempercayai itu (Ali Bin Abi Thalib)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar