Selasa, 20 Desember 2016

Pesona Manusia

Manusia itu lemah (An-Nisa:28). Manusia itu mudah terpedaya (Al-Infithar:6). Manusia itu lalai (At-Takaatsur:6). Manusia itu penakut (Albaqarah:155). Manusia itu tergesa-gesa (Al-Isra' :11)


Ketika mengikuti kajian islam tentang Organisasi membicarakan tentang pengaruh asumsi atau bisa dikatakan sudut pandang awal kita dalam melihat manusia akan mempengaruhi managerial SDM, perilaku organisasi, komunikasi, dan pengembangan yang terjadi dalam suatu organisasi. Salah satu gagasan tersebut muncul dari Douglas McGregor, dosen Sloan School of Management MIT, yang menyatakan bahwa ketika suatu organisasi mengasumsikan SDM nya sebagai pemalas, tak teratur, kekanak-kanakan, tidak kreatif, atau asumsi-asumsi lain yang selanjutnya disebut sebagai asumsi X, maka model managerial dan kepemimpinan yang diterapkan dalam organisasi tersebut lebih otoriter. Sebaliknya, ketika organisasi mengasumsikan karyawannya sebagai asset, potensial, dewasa, kreatif, dan siap berkembang yang selanjutnya disebut sebagai asumsi Y, maka managerial atau kepemimpinan yang diterapkan akan lebih demokratis.
Asumsi tidak bisa dibuktikan. Asumsi bersifat mendasar dan menjadi tumpuan manusia dalam menilai, memahami, dan mengevaluasi baik tentang alam, orang lain, maupun agama. Berasumsi bagaikan kita membuat suatu luasan dengan jangka yang kita putar di sembarang titik tumpu di suatu kertas yang luas. Lusinan ribu buku barangkali telah membahas dan memperdebatkan luasnya realitas di dunia ini. Permasalahannya adalah kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa luas lingkaran tersebut mampu mejangkau semua sisi kertas. Bisa jadi kita membuat lingkaran di tepian kertas yang berarti asumsi yang kita gunakan menjadi sempit konteksnya atau bisa jadi kita membuat lingkaran kecil di suatu kertas besar yang sebenarnya kita bisa lebih memperbesar lagi jangkauan lingkaran tersebut yang dalam arti asumsi yang kita gunakan bisa lebih luas digunakan dalam berbagai konteks.
Asumsi tersebut tentu akan menentukan siapa orang yang Anda pilih, SOP yang Anda buat, sampai evaluasi yang Anda lakukan terhadap tim. Rapat-rapat berjam-berjam bisa tidak berguna karena keliru mengasumsikan sesuatu. Insinyur sipil harus mampu membuat asumsi agar estimasi karya yang dia ciptakan tetap aman. Psikolog harus mampu membuat asumsi agar setiap orang yang datang kepadanya merasa didengarkan. Ustad membuat asumsi agar setiap orang yang mendatanginya merasa masih layak dimaafkan Tuhan atau tidak. Guru, arsitek, dokter, antropolog, da'i, suami, orang tua, ataupun sosiolog menggunakan asumsi. Tapi apa yang bisa Anda berikan jawaban kepada saya bila saya bertanya, "Tapi bukankah Alquran mengatakan sifat-sifat manusia yang buruk? Cenderung asumsi X dong? Alquran nggak sejalan dengan perkembangan managerial ya?. Alquran mendidik muslim untuk menjadi keras?. Mana sisi lembutnya?"
Perusahaan atau organisasi yang bagus adalah yang mampu menjadi tempat berkembang yang baik bagi SDM nya. Memberikan pelatihan yang sesuai potensi SDM nya. Managerial yang baik cenderung menggunakan asumsi Y. Anda bisa merasakan sendiri pada organisasi atau perusahaan tempat Anda berkarya hari ini. Alquran dan sains tidak bertabrakan. Alquran tentu juga tidak keliru karena faktanya kita menjumpai dan merasakan sisi malas, kekanak-kanakan, atau pun ketergesa-gesaan kita sebagai manusia. Asumsi X ada di dalam diri kita. Hal yang menjadi penting adalah penyikapan kita. Keliru jika Anda menggunakan asumsi X dengan ditujukan untuk orang lain atau mengeneralisir baik untuk diri Anda maupun orang lain. Kita nilai orang lain buruk, kita nilai diri kita bersih. Tepatnya adalah jika kita menggunakan asumsi X untuk diri kita sendiri dan asumsi Y untuk orang lain. Biarlah kesalahan itu memang salah kita, sedangkan orang lain masih bisa berubah. Ayat-ayat
Alquran tentang sifat-sifat manusia ditujukan untuk diri sendiri. Menilai diri sendiri. Mengevaluasi diri sendiri. Sedangkan untuk orang lain kita yakini orang tersebut bisa berubah kedalam kebaikan sehingga seorang psikolog bisa membuat organisasi menjadi tempat berkarya yang nyaman, ustad bisa menjadikan ceramahnya menjadi sarana munculnya harapan menjadi pribadi yang baik, dan guru bisa menjadikan pengajarannya sebagai sarana yang benar-benar mencerdaskan. Alquran benar. Sains bisa menuntun terhadap penyikapan-penyikapan yang tepat. Kita (muslim) lah yang seringkali belum benar menempatkannya terlebih di tambah mudahnya masyarakat dipecah belah.
Saya sedang tidak hanya berbicara tentang cara kita menilai orang lain. Lebih dalam dari itu adalah sikap dan perilaku apa yang akan Anda terapkan pada diri Anda apabila Anda di asumsikan X oleh orang A dan diasumsikan Y oleh orang lainnya?. Terus berkarya. Terus perbaiki diri. Terus belajar. Tetap merasa bodoh. Saring kritikan yang tak perlu. Tetap merasa lapar. Jangan menceritakan kebaikan dirimu pada orang lain. Orang yang mencintaimu tak mrmbutuhkan itu. Orang yang membencimu tak mempercayai itu (Ali Bin Abi Thalib)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar