Karena suatu negara pendidikannya buruk, maka
negara memiliki rakyat yang kompetensinya buruk. Budaya kerja keras buruk.
Budaya menghargai karya orang lain buruk. Karena kompetensi yang sedemikian
buruk, segenap rakyat tersebut akan membuat berbagai perusahaan harus merogoh
kantong yang lebih dalam. Demi melakukan training. Pelatihan. Pelatihan
diberikan demi membentuk SDM sebagaimana harapan perusahaan. Terlebih apabila
perusahaan tersebut dari ideologi seberang sana,
Western, yang konon lebih maju dan profesional, tentu hal tersebut menyebabkan
tujuan yang ditetapkan organisasi lebih tinggi dan menginginkan SDM yang mampu
mengikuti tujuannya tersebut.
Perusahaan tentu sudah mengeluarkan uang yang
banyak untuk training. Berikutnya, perusahaan bukanlah negara yang pendapatan
terbesarnya justru dari pajak. Negara duduk. Memajaki rakyatnya. Perusahaan
tidak demikian. Mereka harus berusaha menjual produk ditengah berbagai
tantangan mulai dari regulasi pasar yang tidak pasti sampai menjaga kesetiaan
pekerjanya. Mereka melakukan promosi. Inovasi. Segala hal untuk memastikan
mereka tetap hidup. Negara tetap bisa hidup tanpa melakukan promosi barang
dagangan karena mereka memiliki rakyat yang dipajaki.
Kita mampu membayangkan bagaimana jika kita
sebagai perusahaan yang harus bekerja keras setiap hari menjual produk,
membayar berbagai training, menjadi pemecah kebuntuan mengurangi pengangguran,
lalu tiba-tiba didatangi beberapa orang dengan seperangkat aturan untuk
mengatakan Bayar pajak pada kami!. Bagi saya, kasus penggelapan pajak oleh
perusahaan-perusahaan adalah suatu hal yang sangat logis untuk dilakukan di
luar anggapan mungkin mereka memang rakus atau mereka merasa telah berjasa bagi
negara dan kurang dihargai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar