Pernahkah kamu menonton film Karate Kid yang menceritakan tentang
seorang anak bernama Dre Parker (Jaden Smith) ia merupakan anak kecil yang
seperti kebanyakan anak kecil lainnya, suka bermain bersama teman-temannya. Ia
tidak mau meninggalkan teman-temannya di Amerika namun dikarenakan Ibunya harus
pindah ke Beijing maka ia pun harus ikut kesana. Menjadi orang asing di Beijing
tidaklah mudah. Ia dihadapkan dengan berandal-berandal kecil di kota baru
tersebut.
Ketika Dre berusaha
beradaptasi dengan lingkungan di Beijing, Dre malah di hajar habis-habisan oleh
berandal cilik yang memiliki kemampuan bela diri tinggi. Ia sempat putus asa
dan sangat ingin pulang kembali ke Amerika. Namun pada suatu hari, Ia bertemu dengan
Han (Jackie Chan). Han berusaha merubah sudut pandang Dre dalam menghadapi
masalah ini. Ia mengajarkan salah satu cara untuk menghindari teror ini adalah
dengan menghadapinya bukannya lari ketakutan. Han mengajarkan ilmu bela diri
untuk menghadapi ancaman para berandal cilik tersebut.
Ada yang dimana Ada yang menarik untuk
dimaknai dalam Film Karate Kid (versi terbaru), yaitu dalam fragmen ketika
Siauw-Dre (Jaden Smith, putra Bintang Film terkenal Will Smith) melihat di
salah satu perguruan Kung Fu di China, ada seseorang siswi perguruan yang
sedang mendemostrasikan sebuah jurus di depan seekor ular Cobra.
Terlihat bahwa Sang
Siswi Perguruan Kung Fu tersebut menggoyang-goyangkan kepalanya dan,
dahsyatnya, goyangan kepalanya itu diikuti oleh kepala ular Cobra tersebut,
tanpa berusaha menyerang Sang Siswi tersebut.Awalnya Siauw-Dre mengira bahwa
Sang Siswi tadi meniru gerakan ular Cobra, namun dibenarkan oleh gurunya Mr.
Han (Jackie Chan), justru sebaliknya Sang Cobra lah yang meniru gerakan Sang
Siswi.
Dijelaskan oleh Mr. Han
bahwa berkat ketenangan Sang Siswi (baik tenang pikir maupun tenang hati) maka
Sang Siswi menjadi seperti cermin bagi Sang Cobra. Timbul pertanyaan dari
Siauw-Dre, bagaimana mungkin tidak melakukan apa-apa justru bisa mengendalikan
orang lain?
Mr. Han membenarkan
dengan mengatakan bahwa SANGAT BERBEDA antara tenang/diam dengan tidak
melakukan apa-apa.
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali
kita merasa begitu banyak kesibukan rutin atau mendadak yang harus kita
kerjakan, yang menyebabkan pikiran dan perasaan kita menjadi panik, cemas, dan
“”grusa-grusu” (kata orang Jawa). Jangankan
menjadi “cermin” bagi orang lain, untuk diri kita sendiri pun “terlihat”
kabur/blur. Sehingga wajar jika dalam kondisi panik / kemrungsung kecenderungan
kita akan “menarik” orang-orang yang juga panik.
Dalam NLP
(Neuro-Linguistic Programming), dikatakan bahwa Perasaan (Pikiran bawah sadar)
kita memancarkan vibrasi yang beresonansi dengan vibrasi perasaan orang lain,
maka sudah niscaya ketika pikiran dan perasaan kita negatif akan menarik
(beresonansi) dengan orang-orang yang memiliki vibrasi yang sama.
Maka ketika Anda
sebagai seorang pemimpin (khalifatullah fil ardh) ingin berpengaruh terhadap
yang dipimpin, tidak ada cara lain kecuali “menjadi cermin”, sehingga orang
lain cenderung meniru Anda karena dia seakan-akan melihat dirinya sendiri
ketika berhadapan dengan Anda. Kalau
dalam Hadits Rasulullah SAW, setiap muslim adalah cermin bagi saudara muslim
yang lain. Sehingga saudara
kita bisa mengoreksi
dirinya sendiri hanya dengan bergaul bersama kita. Untuk itu, jadilah “cermin” bagi orang lain dengan
mensunyikan dan menenangkan pikiran dan perasaan. (“Camkanlah hanya dengan dzikrullah
hati menjadi tenang”… Al Ayat)
So, just like Mr. Han
said,” Being still and doing nothing are 2 different things”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar